Pemimpin Australia Anthony Albanese dan rekan Fiji Sitiveni Rabuka dalam momen seremonial di Suva, Fiji, 6 Juli 2026. 
Australia dan Fiji resmi memperkuat hubungan strategis melalui penandatanganan Aliansi Samudra Perdamaian atau Perjanjian Veitatini di Suva pada 6 Juli. Kesepakatan itu bukan sekadar kerja sama pertahanan, melainkan komitmen keamanan bersama yang membuka peluang bagi negara-negara Pasifik lain untuk bergabung, di tengah meningkatnya persaingan geopolitik antara Amerika Serikat dan China di kawasan.

Perjanjian tersebut menetapkan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu pihak di Pasifik akan dipandang sebagai ancaman terhadap keamanan bersama. 

Australia dan Fiji berkomitmen mengambil langkah sesuai mekanisme hukum domestik masing-masing apabila situasi tersebut terjadi. Dengan kesepakatan ini, Fiji bergabung dalam kelompok sekutu pertahanan Australia bersama Amerika Serikat, Selandia Baru, dan Papua Nugini.

Yang membedakan Perjanjian Veitatini dari pakta pertahanan lain adalah sifatnya yang terbuka. Dokumen itu memungkinkan negara-negara Pasifik lain menjadi anggota sepanjang seluruh anggota yang telah bergabung memberikan persetujuan. Skema tersebut dirancang untuk memperkuat arsitektur keamanan yang dipimpin negara-negara Pasifik sendiri.

Australia Kucurkan Dana Hingga A$1 Miliar

Bersamaan dengan penandatanganan perjanjian keamanan, Canberra dan Suva juga menyepakati Vuvale Union, paket kerja sama selama 10 tahun yang dilaporkan bernilai sekitar A$1 miliar atau sekitar US$690 juta. Program tersebut mencakup kerja sama di bidang ekonomi dan penanganan perubahan iklim.

Kesepakatan itu melanjutkan pola kerja sama yang sebelumnya dibangun Australia dengan negara-negara Pasifik lain. Canberra lebih dulu menandatangani Perjanjian Nakamal dengan Vanuatu yang dilaporkan bernilai sekitar A$500 juta serta Perjanjian PukPuk dengan Papua Nugini pada Oktober tahun lalu.

Momentum penandatanganan pakta tersebut berdekatan dengan uji coba rudal balistik China di kawasan Pasifik. Menteri Luar Negeri Australia menyatakan Beijing telah memberikan pemberitahuan sebelum peluncuran dilakukan, namun Canberra tetap menilai langkah itu berpotensi mengganggu stabilitas kawasan.

Persaingan AS-China membayangi Pasifik

Perkembangan tersebut terjadi ketika rivalitas Amerika Serikat dan China semakin terasa di Pasifik. Di Indonesia timur, perusahaan-perusahaan China telah membangun investasi besar pada industri pengolahan nikel di Halmahera, Maluku Utara, yang menjadi salah satu mata rantai penting dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik global.

Investasi itu juga diikuti pembangunan pelabuhan dan infrastruktur logistik yang berada di jalur strategis menuju Pasifik. Kondisi tersebut membuat persaingan memperebutkan mineral kritis semakin berkaitan dengan perebutan pengaruh di sektor keamanan maritim.

Meski demikian, posisi negara-negara Pasifik tidak selalu identik dengan keberpihakan kepada salah satu kekuatan besar. Bagi Fiji, mempererat hubungan dengan Australia dipandang sebagai cara menjaga ruang gerak diplomatiknya sendiri, sekaligus mengelola tekanan dari investasi China dan kepentingan keamanan yang didorong AS beserta para sekutunya.

Bagi banyak negara kepulauan Pasifik, ancaman terhadap kawasan tidak hanya berasal dari isu militer. Perubahan iklim, termasuk ancaman terhadap laut yang menopang kehidupan mereka serta rencana penambangan laut dalam untuk nodul polimetalik, juga menjadi persoalan strategis yang memengaruhi arah kebijakan keamanan dan kerja sama regional.