Perdamaian Rusia-Ukraina tetap buntu karena ambisi Kremlin dan lemahnya mediasi. | CLAUDE

Pada 13 Juni 2026, invasi Rusia ke Ukraina genap memasuki hari ke-1.571, melampaui total durasi Perang Dunia I. Angka tersebut menjadi ukuran kegagalan dari berbagai pihak yang terlibat. Rusia gagal mencapai target awalnya, sanksi Barat tidak mampu mengubah kalkulasi Kremlin, dan upaya mediasi yang silih berganti belum berhasil menghasilkan formula perdamaian yang dapat diterima Moskwa maupun Kiev.

Yang runtuh bukan hanya ekspektasi militer. Yang ikut runtuh adalah asumsi bahwa Amerika Serikat masih bisa menjadi poros tunggal penyelesaian konflik besar di Eropa.

Upaya mengakhiri perang ini sebenarnya sudah dimulai hanya empat hari setelah invasi. Pada 28 Februari 2022, delegasi Ukraina dan Rusia bertemu di Belarus, lalu berlanjut ke perbatasan Belarus-Ukraina dan Antalya, Turki. 

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berpidato di hadapan delegasi Rusia dan Ukraina sebelum pembicaraan damai di Istanbul. | Sha Dati/Zuma Press

Perundingan Istanbul saat itu sempat menghasilkan draf yang mengusulkan Ukraina melepas ambisi keanggotaan NATO dengan imbalan jaminan keamanan dari negara-negara Barat. Tapi negosiasi runtuh karena temuan pembantaian Bucha dan keraguan mendalam atas kesungguhan Moskwa.

Meninjau ulang rangkaian inisiatif perdamaian dari 2022 hingga 2026 mengungkap bukan sekadar kronik kegagalan, melainkan jebakan sistemik dalam diplomasi global. Setiap proposal, dari komunike Istanbul hingga rencana Trump, berfungsi sebagai alat redistribusi kekuatan daripada upaya tulus mengakhiri perang. 

Tuntutan Rusia berevolusi dari pembatasan militer terselubung di 2022 menjadi ultimatum terbuka di 2024, bukan hanya mengokohkan perampasan wilayah tetapi mencoba menulis ulang aturan tatanan internasional.

Dari Copenhagen, Jeddah, hingga Swiss, setiap forum meninggalkan kesimpulan yang sama. Kebuntuan bukan anomali, melainkan kondisi default perang ini.

Ketika Washington ikut macet

Negosiasi untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina sempat menguat di bawah dorongan Trump, namun tetap tersandera oleh divergensi mendalam soal syarat perdamaian. Perkembangan selama setahun terakhir menunjukkan bahwa upaya pemerintahan Trump menekan Ukraina agar cepat membuat konsesi, yang dikemas sebagai pendekatan "realistis", gagal menghasilkan hasil nyata.

Zelenskyy sendiri pernah menyebut bahwa "pihak Amerika mendorong kedua belah pihak untuk mengakhiri perang pada awal musim panas." Tenggat itu kini tinggal catatan kaki.

Dalam foto yang disediakan oleh kantor pers Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina ini, delegasi AS (tengah), Ukraina (kanan), dan Rusia menghadiri putaran selanjutnya dari pembicaraan trilateral tentang perang Rusia-Ukraina di Jenewa, Swiss, Selasa, 17 Februari 2026. | Ukrainian National Security and Defense Council press office

Yang membuat kegagalan mediasi AS lebih kompleks adalah dimensi ekonomi yang menyelinap masuk ke dalam proses diplomatik. Keterlibatan Trump di 2025 memperkenalkan dimensi komersial dengan fokus pada aset dan mineral, menyoroti sebuah ironi bahwa perdamaian menjadi komoditas yang diperdagangkan tanpa persetujuan penuh dari korban.

Deal mineral AS-Ukraina yang akhirnya ditandatangani mencerminkan logika ini. Kesepakatan itu tidak mencakup jaminan keamanan eksplisit bagi Ukraina, meski Kiev menjadikannya prioritas utama dalam negosiasi. Ia juga tidak mengikat AS untuk menyediakan bantuan militer lebih lanjut. Kiev berharap kepentingan finansial AS di masa depan Ukraina bisa menjadi substitusi dari komitmen keamanan formal yang tidak kunjung datang, sebuah taruhan yang sangat tidak setara.

Apa yang membedakan perundingan Geneva 2026 dari skenario mediasi konvensional adalah ketiadaan gencatan senjata. Negosiasi berlangsung di tengah permusuhan aktif. Dalam hari-hari menjelang pembicaraan, serangan terkoordinasi menyasar infrastruktur energi Ukraina, menegaskan kenyataan pahit bahwa diplomasi dan kekerasan kini berjalan dalam jalur paralel.

Peta palsu untuk Putin?

Ada lapisan yang lebih gelap dari sekadar kebuntuan diplomatik. Pertanyaan yang kini menggantung di kalangan analis adalah apakah Putin benar-benar tahu kondisi pasukan Rusia di lapangan.

Perolehan Wilayah Rusia di Ukraina

Perbandingan Januari – Mei 2025 vs 2026, dalam km²
Perolehan wilayah Rusia anjlok 94% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Dari 1.619 km² menjadi hanya 104 km², penurunan yang mencerminkan stagnasi ofensif Moskwa di lapangan.
Sumber: Institute for the Study of War (ISW) · Data per Mei 2026
Institute for the Study of War (ISW) dalam penilaian yang diterbitkan 28 Mei menemukan pasukan Rusia hanya berhasil merebut 104 kilometer persegi wilayah Ukraina sejak awal 2026 hingga 26 Mei. Angka itu anjlok drastis dibanding periode yang sama tahun lalu, ketika Rusia merebut 1.619 kilometer persegi—penurunan sekitar 94%. 

Yang lebih mengkhawatirkan bukan angkanya, melainkan mengapa angka itu bisa sedemikian buruk tanpa ada koreksi di puncak komando. Jawaban sebagiannya muncul dari bocornya peta Kementerian Pertahanan Rusia bertanggal 9 April. Peta tersebut mengklaim pasukan Rusia telah menguasai sejumlah permukiman di barat dan tenggara kota Orikhiv, Oblast Zaporizhia. ISW menyatakan klaim itu tidak didukung bukti apa pun di lapangan. Pola serupa berulang di kawasan Kupyansk. 

Kepala Staf Umum Valery Gerasimov dan Putin sendiri berulang kali mengumumkan kemajuan yang meningkat di sana, dari klaim menguasai setengah kota pada Agustus 2025, naik menjadi dua pertiga pada Oktober, hingga mengklaim penguasaan penuh pada November. Klaim itu berulang kali dibantah ISW maupun milblogger pro-Rusia sendiri.

Para milblogger Rusia mengeluhkan laporan palsu tentang wilayah yang sudah dikuasai terus mengalir ke atas rantai komando dan memantik serangan sia-sia demi merebut wilayah yang sebenarnya sudah dilaporkan berhasil dikuasai sebelumnya.

"Pemikiran Putin tampaknya semakin jauh dari realitas medan perang," tulis ISW, "yang kemungkinan besar mengakibatkan diterbitkannya perintah kepada militer Rusia untuk meraih kemajuan yang tidak mampu mereka capai."

Dampaknya bagi diplomasi sangat serius. Jika Putin menerima gambaran medan perang yang jauh dari kenyataan, kalkulasi apa yang mendasari posisinya di meja perundingan? Mediator mana pun yang mencoba menyodorkan peta situasi riil akan berhadapan dengan pemimpin yang mungkin telah membangun ekspektasi berdasarkan data yang salah.

Mimpi ekspansi yang kian sulit

Kenyataan di lapangan memang jauh dari target Kremlin. ISW pada 13 Mei mencatat pasukan Rusia hanya maju 2,63 kilometer persegi per hari di Oblast Donetsk sejak Januari. Bahkan pada April 2026, Rusia mencatatkan kerugian wilayah bersih sebesar 116 kilometer persegi, yang ISW sebut sebagai kerugian bersih pertama sejak serangan Ukraina ke Kursk pada Agustus 2024. 

Serangan balik Ukraina di wilayah selatan, kampanye drone jarak jauh yang terus menghantam infrastruktur minyak Rusia, dan pertahanan kuat di Donetsk menjadi faktor yang menghentikan laju ofensif Moskwa.

Gempuran Ukraina ke wilayah Rusia picu kerusakan masif

Serangan ke Rusia berdasarkan target (2022 – Mei 2026)
Kilang & fasilitas minyak
Pelabuhan
Lainnya
Fokus strategis serangan bergeser drastis sejak akhir 2024. Penargetan terhadap kilang minyak dan infrastruktur energi Rusia melonjak tajam, mencapai rekor eskalasi tertinggi pada periode 2025 hingga awal 2026 guna melumpuhkan logistik militer Moskwa.
*Data hingga 15 Mei
Sumber: ACLED / Apluswire
Tapi Menteri Pertahanan Rusia Andrei Belousov pada 28 Mei justru memerintahkan Kelompok Pasukan Barat mempercepat kemajuan di arah Kupyansk, Borova, dan Lyman. ISW menilai perintah itu kemungkinan bertujuan agar kondisi medan perang yang sesungguhnya bisa sesuai dengan peta yang sudah lebih dulu diserahkan ke Kremlin. Logika yang terbalik, bukan peta yang mengikuti realitas, tapi realitas yang dipaksa mengikuti peta.

Di tengah tekanan itu, Financial Times melaporkan mengutip sumber-sumber yang memiliki kontak dengan Putin bahwa presiden Rusia meyakini pasukannya dapat merebut seluruh Oblast Donetsk dan Luhansk pada musim gugur 2026. Setelah itu, ia berencana meningkatkan tuntutan teritorialnya. 

Dua orang yang terlibat dalam negosiasi belakang layar bahkan menyebut ambisi Putin mencakup seluruh wilayah Ukraina antara Rusia dan Sungai Dnipro, termasuk kemungkinan hingga Kyiv dan Odesa. Target itu tidak hanya tidak realistis secara militer. Ia juga menjelaskan mengapa setiap formula perdamaian yang menawarkan pembekuan konflik di garis saat ini selalu ditolak Moskwa. Dalam logika strategis Rusia, prospek perdamaian bergantung pada kepatuhan terhadap tuntutan yang telah ditentukan sebelumnya, bukan pada konsesi mutual. 

Sekarang semakin jelas bahwa garis yang dimaksud Moskwa bukan garis hari ini, melainkan garis yang ada di kepala Putin, yang kemungkinan besar berbeda dari kondisi nyata di lapangan.

Eropa ambil alih, tapi dengan apa?

Kepergian Zelenskyy ke London pada 8 Juni untuk bertemu pemimpin Inggris, Jerman, dan Prancis lebih dari sekadar pergantian venue diplomasi. Ini adalah pengakuan terbuka bahwa pusat gravitasi mediasi telah berpindah setelah "lebih dari setahun mediasi yang tidak efektif oleh Amerika Serikat," seperti yang ditulis The New York Times.

Sinyal-sinyal Washington yang berubah-ubah telah memaksa Eropa masuk ke mode reaktif. Sadar akan ketergantungan mereka yang masih besar pada AS untuk deterensi dan dukungan ke Ukraina, para pemimpin Eropa lama menahan diri dari kritik terbuka terhadap kebijakan AS. Sebaliknya, mereka menjalankan strategi ganda, berupaya menjaga Washington tetap terlibat dengan hampir segala harga, sambil secara hati-hati mempersiapkan otonomi yang lebih besar.

Wujud konkret dari otonomi itu adalah "Coalition of the Willing" yang kini beranggotakan lebih dari 30 negara Eropa dan mitra sejalan. Pada 6 Januari 2026 di Paris, anggota koalisi berkomitmen pada sistem jaminan yang mengikat secara politik dan hukum yang akan diaktifkan begitu gencatan senjata mulai berlaku, termasuk pembentukan pasukan multinasional.

Dukungan Finansial & Militer Eropa ke Ukraina

Per periode, dalam miliar US$
Komitmen finansial Eropa ke Ukraina terus meningkat tiap periode. Angka 2026–2027 sebesar US$ 90 miliar menjadikan Eropa kini penjamin utama kelangsungan pertahanan Ukraina. *Proyeksi.
Sumber: European Defence Agency, laporan koalisi Eropa · Data per Juni 2026
Faktor kunci yang menopang kepercayaan diri Kiev adalah dukungan negara-negara Eropa, baik militer maupun finansial, dengan total US$ 90 miliar untuk 2026-2027, serta upaya mengimbangi tekanan sepihak dari Trump soal negosiasi perdamaian. 

Angka itu besar, tapi tanpa koordinasi penuh dengan Washington, diplomasi Eropa berisiko lebih vokal daripada efektif.

Pengeluaran Pertahanan Uni Eropa

Indeks 2020–2025, basis tahun 2020 = 100
Pengeluaran pertahanan EU naik 60% dari 2020 hingga 2025. Lonjakan paling tajam terjadi tepat setelah invasi 2022, sebuah akselerasi yang belum pernah terjadi sejak era Perang Dingin.
Sumber: SIPRI, European Defence Agency · Data per 2025
Pengeluaran pertahanan Uni Eropa meningkat 60% dari 2020 hingga 2025, percepatan yang belum pernah terjadi sejak era Perang Dingin. Demonstrasi militer Eropa semakin menguat setelah tekanan geopolitik dari berbagai penjuru, mulai dari ancaman AS terhadap Greenland hingga konflik di kawasan Timur Tengah yang menyentuh stabilitas Eropa Selatan. Ukraina bukan satu-satunya tekanan yang sedang dikelola Eropa secara bersamaan.

Penting pula dicatat bahwa ada jarak terukur antara Kongres AS dan Gedung Putih dalam membaca ancaman Rusia. Berbeda dari Strategi Keamanan Nasional 2025 yang mengambil sikap jauh lebih lunak terhadap Rusia dibanding pemerintahan sebelumnya, National Defense Authorization Act 2026 berulang kali mengidentifikasi Federasi Rusia sebagai ancaman bagi stabilitas kawasan dan keamanan AS, serta mengidentifikasi aliansi yang tumbuh antara China dan Rusia sebagai perkembangan geopolitik yang sangat menantang. Jarak ini memberi sinyal bahwa kebijakan luar negeri AS terhadap perang ini belum bulat, dan bisa bergeser tergantung dinamika politik domestik Washington.

Publik mulai memilih negosiasi

Pergeseran Opini Publik Ukraina

Perang vs Negosiasi, 2022 dibanding 2026 (%)
Pembalikan opini yang hampir sempurna dalam empat tahun. Warga Ukraina yang mendukung negosiasi melonjak dari 32% ke 69%, sementara dukungan untuk berjuang hingga menang turun dari 73% ke 17%.
Sumber: Gallup, Lord Ashcroft Polls · Data per Juni 2026
Perubahan sikap warga Ukraina layak dibaca bukan hanya sebagai data survei, melainkan sebagai sinyal geopolitik yang punya konsekuensi nyata. 

Gallup mencatat 69% warga Ukraina kini mendukung penyelesaian lewat negosiasi, berbalik hampir penuh dari 2022 ketika 73% memilih berjuang hingga kemenangan. Jajak pendapat Lord Ashcroft menunjukkan hanya sekitar satu dari tiga warga Ukraina percaya perang akan berakhir sebelum tutup tahun 2026.

Pergeseran ini memberi Zelenskyy ruang politik yang lebih luas untuk bernegosiasi tanpa terlihat mengkhianati mandat rakyat. Tapi ia juga membawa tekanan baru. Jika pemimpin Ukraina terlihat menolak tawaran damai yang dianggap wajar oleh sebagian warganya sendiri, legitimasi dalam negeri bisa terkikis lebih cepat dari yang diperkirakan.

Meningkatnya penerimaan terhadap konsesi wilayah oleh warga Ukraina yang kelelahan perang, bersama dengan "Iranisasi" ekonomi Rusia yang semakin dalam, adalah dua faktor yang mendorong menuju akhir permusuhan. Tapi faktor pendorong saja tidak cukup tanpa mekanisme yang bisa menjembatani tuntutan Moskwa yang maksimalis dengan kebutuhan minimum Kiev untuk bertahan sebagai negara berdaulat yang fungsional.

Pertaruhan geopolitik abad ke-21

Di balik detail taktis negosiasi, ada pertaruhan yang lebih besar. Bagaimana konflik ini berakhir akan membentuk ulang arsitektur keamanan Eropa untuk satu generasi ke depan.

Jika Rusia keluar dari perang ini dengan perolehan wilayah yang diakui, bahkan secara implisit, preseden yang terbentuk adalah bahwa agresi militer terhadap negara berdaulat bisa menghasilkan keuntungan nyata selama negara agresor cukup tahan banting melewati tekanan internasional. 

Preseden itu tidak hanya berbahaya bagi Ukraina, ia mengubah kalkulasi keamanan negara-negara kecil di sekitar Rusia dan di luar kawasan Eropa.

Prospek gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina di 2026 tampak sangat tidak pasti, akibat ketidaksesuaian klaim wilayah kedua pihak, serta penolakan Rusia terhadap jaminan keamanan yang direncanakan Eropa untuk Ukraina.

Yang kini menjadi pertanyaan terbuka adalah apakah diplomasi Eropa bisa menerobos kebuntuan yang ditinggalkan mediasi AS, sementara di sisi lain mereka harus bernegosiasi dengan pemimpin yang mungkin sedang membuat keputusan perang berdasarkan peta yang tidak mencerminkan kenyataan.