Jepang menargetkan 10% bahan bakar pesawat berasal dari minyak jelantah rumah tangga pada 2030. | SHUTTERSTOCK

Pemerintah Jepang bersama sektor swasta kini gencar menggenjot pengumpulan minyak goreng bekas atau minyak jelantah dari sektor rumah tangga di berbagai wilayah. Langkah agresif ini diambil demi mengejar target ambisius pemenuhan 10% bahan bakar pesawat berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) dari total konsumsi avtur domestik pada tahun 2030.

Tekanan di pasar energi global akibat konflik Iran kian memperumit posisi Jepang yang miskin sumber daya alam. Di tengah lonjakan biaya energi, pemanfaatan limbah dapur dinilai sebagai solusi domestik paling realistis demi menekan emisi karbon di industri penerbangan.

Salah satu inisiatif yang tengah berjalan adalah proyek kolaborasi "Fry to Fly" yang melibatkan sekitar 300 peserta, termasuk jaringan supermarket besar. Mengutip laporan Reuters Warga Tokyo kini mulai terbiasa mengumpulkan sisa minyak memasak mereka ke dalam botol plastik untuk disetorkan ke titik pengumpulan terdekat.

Pemerintah Metropolitan Tokyo sendiri menargetkan pengumpulan limbah minyak dari sekitar 7,8 juta rumah tangga. Berbagai upaya fasilitasi dilakukan, termasuk membagikan 13.000 corong plastik yang dilengkapi kode QR berisi petunjuk teknis pengumpulan pada tahun fiskal lalu. Meski demikian, efektivitas pengumpulan masih menjadi tantangan besar.

Sepanjang 2024, volume minyak jelantah yang terkumpul di ibu kota baru mencapai 160 kiloliter. Berdasarkan kalkulasi menggunakan formula milik perusahaan SAF lokal, Saffaire Sky Energy, jumlah tersebut rupanya hanya cukup untuk menerbangkan satu pesawat Boeing 787 Dreamliner selama kurang lebih 17 jam.

Pejabat Pemerintah Tokyo, Yasushi Sato, menekankan pentingnya akselerasi gerakan ini sejak dini. "Jika kita tidak mulai sekarang, maka kita tidak akan mampu mencapai target pada tahun 2030," kata Sato.

Keterlibatan sektor bisnis pun mulai meluas. Kelompok ritel raksasa seperti Aeon, Ito-Yokado, dan 7-Eleven terus memperbanyak titik pengumpulan minyak bekas, sementara perusahaan teknologi Fujifilm Holdings mulai mengamankan pasokan dari kantin karyawan mereka.

Namun, jalan menuju kemandirian energi udara ini masih sangat terjal. Saat ini, produksi SAF domestik Jepang baru menyentuh angka 30.000 kiloliter atau setara 0,3% dari total konsumsi bahan bakar pesawat. Padahal, pada 2030 nanti, negeri Sakura tersebut diperkirakan membutuhkan sekitar 1,7 juta kiloliter SAF.

Dua maskapai terbesar Jepang, ANA Holdings dan Japan Airlines, dalam presentasi bersama pada Mei lalu mengakui bahwa hambatan di lapangan tergolong besar. "Kami menghadapi kenyataan yang jauh lebih berat dari yang diperkirakan sebelumnya," ungkap kedua maskapai tersebut.

Tantangan yang dihadapi Jepang mencerminkan realitas industri penerbangan global. Investigasi Reuters tahun lalu memaparkan bahwa hanya seperlima dari seluruh proyek SAF yang diumumkan oleh maskapai di seluruh dunia yang benar-benar terealisasi. Tingginya biaya produksi dibanding bahan bakar konvensional menjadi batu sandungan utama.

Jika target volume domestik meleset, konsekuensinya berpotensi memicu lonjakan biaya operasional. Perusahaan penyulingan dan maskapai terpaksa harus mengimpor SAF atau bahan bakunya dengan harga yang jauh lebih mahal, selain risiko menghadapi sanksi lingkungan. 

Sebagai gambaran, Singapura yang menerapkan mandat penggunaan 1% SAF saat ini masih sangat bergantung pada impor bahan baku.

Bagi industri energi Jepang, tahun ini menjadi periode krusial untuk menentukan kelayakan investasi jangka panjang. Pemerintah menetapkan tenggat keputusan investasi final pada Maret mendatang agar produksi massal bisa berjalan tepat waktu pada 2030.

Eneos Holdings, perusahaan energi terbesar di Jepang, menyatakan bahwa volume pengumpulan minyak jelantah di dalam negeri akan menjadi indikator utama untuk melanjutkan proyek bersama Mitsubishi Corporation. Proyek tersebut dirancang untuk memproduksi 400.000 kiloliter SAF setelah tahun fiskal 2028.

Di sisi lain, kerumunan proses dari pengumpulan, pengolahan, hidrogenasi, hingga distilasi membuat investasi di sektor ini berisiko tinggi. JGC Holdings, perusahaan rekayasa industri yang mengoperasikan pabrik SAF skala komersial pertama di Jepang tahun lalu bersama Cosmo Energy Holdings dan REVO International, menekankan perlunya kepastian permintaan sebelum ekspansi kapasitas dari angka 30.000 kiloliter per tahun saat ini.

Asosiasi daur ulang minyak bekas UCO Japan memperkirakan, andai seluruh minyak jelantah di Jepang berhasil dikumpulkan tanpa sisa, volumenya hanya berkisar 550.000 kiloliter. Angka itu baru memenuhi seperempat dari total kebutuhan SAF nasional pada 2030.

Mengingat pasokan dari sektor bisnis sudah terserap maksimal, impor bahan baku atau produk jadi dinilai tetap tidak terhindarkan sebelum alternatif lain seperti bahan bakar berbasis bioetanol siap dikomersialkan.

Ekonom senior di Norinchukin Research Institute, Motoomi Suzuki, menilai target yang dipatok pemerintah memang teramat tinggi dengan keterbatasan pasokan yang ada.

"Dengan kondisi seperti itu, target tersebut sangat ambisius," ujar Suzuki. Namun, ia menambahkan bahwa kebutuhan Jepang terhadap bahan baku domestik membuat minyak goreng bekas menjadi satu-satunya pilihan yang realistis dalam jangka pendek untuk mendukung pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan.