![]() |
| Foto yang dirilis pada hari Selasa, 5 November 2019 oleh Organisasi Energi Atom Iran ini menunjukkan mesin centrifuge di fasilitas pengayaan uranium Natanz di Iran tengah. | IRNA |
Amerika Serikat dan Iran menyepakati peta jalan selama 60 hari menuju perundingan final setelah putaran pertama pembicaraan damai yang berlangsung di resor Bürgenstock, Swiss, berakhir pada Senin. Salah satu hasil utama pertemuan tersebut adalah kesediaan Teheran membuka kembali akses bagi inspektur International Atomic Energy Agency (IAEA) untuk masuk ke wilayah Iran.
Kesepakatan awal itu dicapai setelah dua hari negosiasi yang berlangsung selama sekitar 18 jam. Qatar dan Pakistan yang bertindak sebagai mediator menyebut pembicaraan berjalan dalam suasana konstruktif dan menghasilkan kemajuan penting, termasuk pembentukan mekanisme untuk melanjutkan diskusi teknis.
Dalam pernyataan bersama, para mediator juga mengumumkan pembentukan Komite Tingkat Tinggi untuk mengawasi proses mediasi serta jalur komunikasi khusus terkait keamanan Selat Hormuz.
Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance, yang memimpin delegasi AS dalam perundingan tersebut, mengatakan Iran telah menyetujui kembalinya para inspektur IAEA sebagai bagian dari langkah awal membangun kepercayaan.
Berbicara kepada wartawan di Bürgenstock, Vance menyebut keputusan itu sebagai perkembangan penting dalam proses negosiasi yang lebih luas. "Pihak Iran telah setuju untuk mengundang kembali para inspektur IAEA ke negara mereka," ujar Vance.
Ia menambahkan, "tonggak penting bagi rakyat Amerika dan langkah pertama menuju denuklirisasi Iran secara permanen."
Menurut Vance, para inspektur diperkirakan dapat tiba di Iran paling cepat pekan ini.
Pembicaraan berlangsung di tengah upaya kedua negara meredakan ketegangan yang selama bertahun-tahun membayangi kawasan Timur Tengah. Selain isu nuklir, perundingan juga menyinggung keamanan jalur pelayaran internasional dan berbagai persoalan regional yang melibatkan kelompok-kelompok sekutu Iran.
Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyampaikan optimisme terhadap hasil awal pembicaraan tersebut. Dalam unggahannya di platform X, ia menyatakan sejumlah langkah pelonggaran telah mulai dijalankan.
"Pembatasan ekspor minyak dan petrokimia telah dicabut, blokade telah diakhiri, sebagian aset yang dibekukan telah dibebaskan, dan rencana rekonstruksi serta pembangunan besar-besaran untuk Iran telah diluncurkan," tulis Araghchi.
Meski menghasilkan sejumlah kesepahaman awal, proses negosiasi sempat menghadapi gangguan serius. Pada Sabtu, Presiden Donald Trump memicu ketegangan setelah mengunggah pernyataan di Truth Social yang berisi ancaman terhadap Iran apabila tidak mengendalikan Hizbullah, termasuk peringatan terkait situasi di Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut memicu aksi keluar ruangan oleh delegasi Iran sebagai bentuk protes. Kantor berita negara IRNA mengonfirmasi langkah tersebut.
Namun sejumlah sumber diplomatik yang dikutip AFP menyebut delegasi Iran tidak pernah benar-benar menghentikan keterlibatan mereka dalam proses perundingan. Komunikasi informal tetap berlangsung melalui mediator dari Qatar dan Pakistan hingga kedua pihak kembali ke meja negosiasi.
Perundingan akhirnya ditutup pada Senin dengan kesepakatan untuk melanjutkan pembahasan teknis pada akhir pekan mendatang.
Sejumlah isu utama masih belum mencapai titik temu. Konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon tetap menjadi salah satu pembahasan paling sensitif. Iran menegaskan bahwa upaya mencapai gencatan senjata di Lebanon perlu menjadi bagian dari kesepakatan yang lebih luas.
Isu program nuklir Iran juga belum dibahas secara rinci dan dijadwalkan masuk ke tahap kedua negosiasi. Selain itu, belum ada kesepakatan mengenai mekanisme pencairan aset Iran yang selama ini dibekukan.
Pejabat Iran menyebut nilai aset yang diharapkan dapat dicairkan mencapai US$25 miliar. Sementara itu, pejabat AS menggambarkan skema yang dibahas sebagai sistem pay-for-performance, yaitu pencairan yang dilakukan berdasarkan pemenuhan komitmen tertentu oleh Teheran.
0Komentar