![]() |
| Pekerja memeriksa stok beras Bulog di Gudang Perum Bulog Campang Raya, Bandar Lampung, Lampung, Selasa (29/4/2025). ANTARA FOTO/Ardiansyah |
Bulog menyiapkan 200 ribu ton beras premium pecahan 5% untuk memenuhi rencana ekspor 10 ribu ton ke Singapura, yang bisa dikirim sewaktu-waktu begitu kesepakatan final diteken. Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyebut kesiapan ini sejalan dengan rencana pemenuhan pesanan 500 ribu ton beras dari Malaysia yang juga tengah disiapkan.
"Yang 10 ribu ton tersebut jadi kita sudah siapkan bareng dengan nanti proses yang untuk 500 ribu ton pesanan dari Malaysia," ujar Rizal dalam konferensi pers di Gudang Bulog Kanwil DKI Jakarta, Jakarta Utara, Senin (29/6).
Penjajakan ekspor ke Singapura ini bermula dari pertemuan bilateral Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dengan Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura Grace Fu. Amran menawarkan ekspor minimal 10 ribu ton beras dengan dasar stok nasional yang kini mencapai sekitar 5,1 juta ton.
"Kami mengusulkan ekspor minimal 10 ribu ton beras dari Indonesia ke Singapura. Selain itu, kami juga ingin meningkatkan kerja sama untuk komoditas ayam, telur, minyak sawit, serta memperkuat pertukaran teknologi pertanian. Ini menjadi langkah kolaborasi yang saling menguntungkan bagi kedua negara," kata Amran dalam keterangan resmi, Senin (29/6).
Produksi gabah nasional yang melimpah tahun ini turut mendorong serapan Bulog naik signifikan. Hingga akhir Juni, serapan beras Bulog sudah menembus 3,2 juta ton atau sekitar 80% dari target pengadaan 4 juta ton. Dengan sisa waktu enam bulan, Rizal memperkirakan angka itu bisa tembus 4,5 juta ton, bahkan berpotensi mencapai 5 juta ton.
"Serapan sampai bulan Juni ini sudah mencapai 80% dari total target 4 juta ton, berarti lebih dari 3,2 juta ton. Ini masih ada enam bulan lagi ke depan. Jadi prediksi kami serapan kami mungkin bisa di atas 4,5 (juta ton) atau bahkan sampai 5 juta ton," katanya.
Lonjakan serapan inilah yang memantik Bulog memperluas jangkauan penyaluran, tak lagi sebatas pasar domestik. Selain Singapura dan Malaysia, sejumlah negara lain juga sudah menyatakan minat. Uni Emirat Arab tercatat meminta pasokan sekitar 50 ribu ton beras per bulan, setara 600 ribu ton dalam setahun. Timor Leste dan Papua Nugini turut masuk daftar negara yang berpotensi menyerap beras asal Indonesia.
"Kemarin juga Uni Emirat Arab sempat meminta, kalau enggak salah per bulannya minta 50 ribu ton. Kalau setahun berarti sampai 600 ribu ton. Ditambah lagi ke depan adanya potensi dari Singapura maupun negara-negara tetangga kita, Timor Leste maupun PNG," ujar Rizal.
Terkait Malaysia, Bulog berencana melakukan kunjungan langsung dalam waktu dekat untuk merampungkan negosiasi harga.
"Mungkin dalam waktu dekat kami akan ke Malaysia untuk mendiskusikan harga yang cocok sesuai dengan penawaran," tambahnya.
0Komentar