![]() |
| pesawat tempur Dassault Rafale, sebuah pesawat tempur multiperan (omnirole) generasi 4,5 buatan perusahaan Prancis, Dassault Aviation. |
Kementerian Pertahanan RI tengah menimbang opsi untuk mendatangkan 24 unit tambahan jet tempur Dassault Rafale asal Prancis. Langkah ini merupakan potensi perluasan dari kontrak pengadaan alutsista udara yang sebelumnya telah berjalan, guna memperkuat postur pertahanan nasional di tengah dinamika geopolitik kawasan.
Wacana penambahan armada ini mencuat ke publik setelah pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron beberapa waktu lalu.
Media Prancis La Tribune sempat melaporkan adanya kemungkinan kerja sama lanjutan tersebut, menyusul komitmen Indonesia yang sudah mengamankan puluhan unit pesawat generasi 4,5 ini.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menegaskan bahwa pemerintah belum mengambil keputusan final terkait pengadaan tambahan ini. Hingga pertengahan April, status rencana tersebut masih berada dalam meja pengkajian mendalam.
"Opsi penambahan masih dalam tahap kajian oleh pemerintah," ujar Rico di Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Rico menambahkan bahwa belum ada kesepakatan resmi atau kontrak baru yang diteken dengan pihak Prancis untuk 24 unit tersebut. Proses evaluasi saat ini menitikberatkan pada keselarasan rencana pembelian dengan kebutuhan strategis jangka panjang, kemampuan anggaran negara, serta efektivitas operasional TNI Angkatan Udara.
"Keputusan dilakukan untuk memastikan bahwa rencana pembelian alutsista benar-benar selaras dengan kebutuhan strategis pertahanan nasional, bukan sekadar keputusan jangka pendek," tambah Rico menjelaskan parameter kajian tersebut.
Status armada saat ini
Jauh sebelum opsi 24 unit ini muncul, Indonesia telah lebih dulu meresmikan kontrak pengadaan 42 unit Rafale varian F4 pada 2022. Kesepakatan senilai sekitar US$ 8 miliar tersebut dieksekusi secara bertahap, termasuk perluasan kontrak tahap ketiga sebanyak 18 unit yang dirampungkan pada 2025.
Modernisasi kekuatan udara ini mulai menampakkan wujud fisik di awal tahun ini. Tiga unit perdana Rafale mendarat di Indonesia pada Januari 2026 dan langsung ditempatkan di Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin, Pekanbaru. Kemhan memproyeksikan gelombang kedua yang terdiri dari tiga unit tambahan akan tiba di tanah air pada pertengahan 2026.
Jika kajian terhadap 24 unit tambahan ini berlanjut menjadi kontrak resmi, Indonesia akan mengoperasikan total 66 unit Rafale. Jumlah ini akan menempatkan Indonesia sebagai salah satu operator Rafale terbesar di luar Eropa, sekaligus mengubah peta kekuatan udara di Asia Tenggara.

0Komentar