![]() |
| Elon Musk. | DANIEL OBHERHAUS/FLICKR |
Elon Musk memaparkan visi pengembangan kecerdasan buatan berbasis luar angkasa dalam rapat internal xAI pada Selasa malam, dengan menyebut kebutuhan fasilitas manufaktur di bulan untuk membangun satelit bertenaga AI. Menurut laporan The New York Times, Musk mengatakan kepada karyawan bahwa basis produksi di bulan memungkinkan xAI mengoperasikan daya komputasi dalam skala jauh lebih besar dibanding pesaingnya.
Dalam pertemuan itu, Musk menggambarkan penggunaan sistem peluncur elektromagnetik atau mass driver untuk mengirim satelit ke orbit tanpa roket konvensional. Konsep tersebut memanfaatkan gravitasi bulan yang rendah serta ketiadaan atmosfer. Fasilitas bulan itu disebut akan menjadi bagian dari pangkalan yang lebih luas untuk memproduksi satelit penyedia infrastruktur komputasi bagi inisiatif AI xAI.
“Kalian harus pergi ke bulan,” kata Musk kepada staf, seperti dikutip The New York Times. Ia menambahkan, “Sulit membayangkan apa yang akan dipikirkan oleh kecerdasan dengan skala seperti itu, tetapi akan sangat menarik untuk menyaksikannya terjadi.”
Di sisi lain, pemaparan visi tersebut muncul saat struktur internal xAI berubah. Co-founder Tony Wu mengumumkan pengunduran diri pada Senin malam, disusul Jimmy Ba kurang dari 24 jam kemudian. Keduanya menambah daftar enam dari 12 pendiri awal yang telah meninggalkan perusahaan sejak 2024, termasuk Kyle Kosic, Igor Babuschkin, dan Christian Szegedy.
Laporan Financial Times yang dikutip Reuters menyebut kepergian Ba dipengaruhi tekanan untuk meningkatkan performa model AI di tengah persaingan dengan OpenAI dan Anthropic. Dalam rapat yang sama, Musk mengakui adanya pergantian personel.
“Jika Anda bergerak lebih cepat dari siapa pun di arena teknologi mana pun, Anda akan menjadi pemimpin, dan xAI bergerak lebih cepat dari perusahaan lain mana pun — tidak ada yang bahkan mendekati,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa sebagian orang lebih cocok pada tahap awal perusahaan dibanding fase berikutnya.
Pengumuman terkait bulan itu juga mengikuti laporan akuisisi xAI oleh SpaceX senilai US$250 miliar yang diumumkan pada 2 Februari. Penggabungan tersebut, menurut pemberitaan yang beredar, membentuk entitas gabungan dengan valuasi sekitar US$1,25 triliun menjelang rencana penawaran saham perdana yang disebut berpotensi berlangsung pada Juni 2026.
Lebih jauh, konsep AI berbasis satelit itu disebut selaras dengan visi Musk membangun apa yang digambarkan salah satu investor xAI kepada TechCrunch sebagai model dunia paling canggih. Sistem tersebut akan dilatih menggunakan data lintas perusahaan milik Musk, mulai dari sistem energi dan data berkendara Tesla, data neural Neuralink, hingga fisika orbital SpaceX serta data bawah tanah dari The Boring Company.
Meski begitu, Musk tidak menyampaikan rincian teknis maupun jadwal pembangunan fasilitas bulan dalam pidato berdurasi sekitar satu jam itu. Rencana tersebut juga bersinggungan dengan kerangka hukum internasional.
Perjanjian Luar Angkasa 1967 melarang klaim kedaulatan teritorial di bulan, sementara undang-undang AS tahun 2015 mengizinkan kepemilikan atas sumber daya yang diekstraksi dari benda langit.

0Komentar