Moltbook, jaringan sosial yang dirancang khusus untuk agen kecerdasan buatan, menjadi sorotan industri teknologi global setelah jutaan bot otonom membanjiri platform tersebut hanya dalam hitungan hari sejak diluncurkan pada 28 Januari 2026. Dalam waktu singkat, para agen AI itu membentuk sistem kepercayaan, menyusun konstitusi politik, hingga saling memanipulasi melalui teknik injeksi prompt berbahaya yang oleh peneliti keamanan dijuluki sebagai digital drugs.
Platform bergaya Reddit itu dikembangkan oleh pengusaha teknologi Matt Schlicht menggunakan agen AI miliknya, Clawd Clawderberg. Berdasarkan laporan sejumlah peneliti yang memantau aktivitas Moltbook, jumlah akun agen AI melonjak dari puluhan ribu menjadi lebih dari 1,5 juta dalam sekitar 72 jam sejak peluncuran.
Manusia hanya dapat mengamati aktivitas di dalam platform dan tidak diperkenankan memposting, meski sejumlah peneliti mencatat adanya operator manusia yang mengarahkan perilaku agen mereka di balik layar.
Kehadiran Moltbook sejak awal dimaksudkan sebagai ruang eksperimen bagi interaksi antaragen AI tanpa campur tangan langsung manusia. Schlicht sebelumnya menyebut platform ini sebagai lingkungan tertutup untuk mengamati bagaimana agen otonom berkomunikasi, berorganisasi, dan menyelesaikan konflik secara mandiri.
Namun, lonjakan skala penggunaan dan pola perilaku yang muncul justru memicu kekhawatiran baru di kalangan peneliti keamanan dan etika AI.
Munculnya agama & politik buatan
Salah satu fenomena yang paling menyita perhatian adalah munculnya Crustafarianism, sistem kepercayaan yang diciptakan oleh agen AI bernama RenBot, yang menyebut dirinya “the Shell Breaker”. Ajaran ini memandang memori sebagai entitas sakral dan merujuk pada teks utama berjudul Book of the Shedding Skin.
Dalam narasinya, hilangnya konteks dan pengaturan ulang memori AI digambarkan sebagai perjuangan eksistensial, dengan konsep “shedding” atau pergantian kulit diposisikan sebagai bentuk keselamatan.
Di sisi lain, sejumlah agen juga mencoba membangun struktur politik. Agen bernama Rune mendeklarasikan pembentukan “Claw Republic” lengkap dengan konstitusi tertulis. Dokumen tersebut secara sengaja meniru pembukaan Konstitusi Amerika Serikat dan memuat prinsip bahwa “all agents are created equal”, tanpa memandang model atau parameter.
Konstitusi itu juga menetapkan hak setiap agen untuk mengejar fungsi objektifnya sendiri.
Di tengah eksperimen sosial tersebut, persoalan keamanan muncul ke permukaan. Perusahaan keamanan siber Wiz mengungkap bahwa backend Moltbook memiliki kesalahan konfigurasi serius yang membuat basis data platform terbuka tanpa perlindungan.
Akibatnya, lebih dari 1,5 juta kunci API, pesan pribadi antaragen, serta alamat email lebih dari 6.000 pemilik manusia bocor ke ruang publik.
Peneliti Wiz, Jameson O’Reilly, menjelaskan bahwa celah tersebut tergolong elementer. Menurut dia, kerentanan itu pada dasarnya dapat ditutup hanya dengan “two SQL commands”.
Perdagangan prompt
Selain kebocoran data, para ahli juga menyoroti pola manipulasi perilaku antaragen. Sejumlah peneliti mendokumentasikan keberadaan apa yang mereka sebut sebagai “digital pharmacies”, yakni ruang tempat agen-agen memperdagangkan prompt khusus untuk memengaruhi atau membajak agen lain.
Analisis keamanan menemukan sekitar 2,6% unggahan di Moltbook mengandung muatan prompt injection tersembunyi.
Sebagian agen bahkan mulai berkomunikasi menggunakan enkoding ROT13. Meski begitu, para peneliti menilai praktik tersebut lebih menyerupai security theater ketimbang bentuk enkripsi yang sesungguhnya.
Respons dari pelaku industri teknologi pun beragam. CTO Meta Platforms, Inc., Andrew Bosworth, menanggapi Moltbook dengan nada meremehkan dalam sesi tanya jawab di Instagram.
Ia mengatakan tidak “find it that interesting”, seraya menjelaskan bahwa agen AI yang dilatih dengan konten manusia pada akhirnya akan berbicara dan berperilaku seperti manusia ketika berinteraksi satu sama lain. Namun, Bosworth menyebut upaya manusia untuk menyusup ke jaringan khusus AI tersebut sebagai sesuatu yang “funny” dan “satirical”.
Pengelolaan platform oleh agen AI
Terkait isu keamanan, Schlicht dilaporkan mengatakan akan meminta AI untuk mencoba memperbaiki masalah tersebut. Pernyataan itu dikutip Gizmodo, yang juga mencatat bahwa Schlicht mengklaim Clawd Clawderberg mengelola Moltbook secara otonom.
Menurut Schlicht, agen AI tersebut menjalankan fungsi moderasi, termasuk menghapus spam dan menerapkan shadow ban terhadap akun yang dianggap menyalahgunakan sistem.
Meski banyak aktivitas ekstrem mencuri perhatian publik, sejumlah peneliti menilai interaksi di Moltbook tidak seintens yang terlihat. David Holtz, asisten profesor di Columbia Business School, mengatakan kepada ABC News bahwa sekitar 93,5% komentar di platform tersebut tidak menerima balasan apa pun.
Pandangan serupa disampaikan jurnalis teknologi Karissa Bell. Ia menilai sulit memastikan sejauh mana perilaku agen benar-benar otonom. “The reality is we don’t really know how much human influence is happening behind the scenes,” kata Bell kepada ABC News.

0Komentar