![]() |
| Presiden AS Donald Trump membuat pidato virtual kepada peserta Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, pada hari Kamis, 23 Januari 2025. |
Saat lebih dari 850 chief executive perusahaan global berkumpul di pegunungan Alpen Swiss dalam World Economic Forum (WEF) pekan ini, Amerika Serikat dan China bergerak paralel mendekati kalangan bisnis. Presiden Donald Trump dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng menjadwalkan pertemuan terpisah dengan para pemimpin korporasi di tengah kembali berjalannya pembicaraan dagang dan meningkatnya tensi geopolitik.
Trump dijadwalkan menggelar pertemuan tertutup dengan sejumlah eksekutif pada Rabu malam, usai menyampaikan pidato utama di forum tersebut. Informasi ini dilaporkan Semafor dan Reuters. Undangan dari Gedung Putih disebut baru dikirim pada Senin, membuat sejumlah perusahaan harus menyesuaikan ulang agenda Davos yang telah disusun berbulan-bulan.
Di sisi lain, He Lifeng—pejabat ekonomi tertinggi China sekaligus kepala negosiator perdagangan—juga dijadwalkan mengadakan pertemuan khusus undangan dengan para pemimpin perusahaan global. Menurut Bloomberg, pertemuan ini difasilitasi pejabat WEF dan melanjutkan tradisi para pemimpin China yang bertemu langsung dengan eksekutif di Davos.
Pendekatan ganda dari Washington dan Beijing ini mencerminkan besarnya arti hubungan dengan dunia usaha global bagi kedua negara. Gencatan senjata dagang AS–China yang tercapai dalam pertemuan Trump dan Presiden Xi Jinping di Korea Selatan pada Oktober lalu membuka kembali ruang dialog.
Dalam kesepakatan tersebut, kedua negara sepakat memperpanjang tarif yang lebih rendah hingga November 2026, memberi kelonggaran sementara bagi perusahaan multinasional.
Meski begitu, China dinilai berupaya memanfaatkan ketidakpastian kebijakan AS. Sikap ekonomi Trump yang kerap berubah, mulai dari ancaman merebut Greenland hingga rencana tarif baru terhadap delapan negara Eropa memberi ruang bagi Beijing untuk memosisikan diri sebagai mitra yang lebih stabil. Analisis South China Morning Post yang dikutip Semafor menyebut situasi ini membuat sebagian pelaku usaha global menimbang ulang peta risiko mereka.
Nada di kalangan CEO pun berbeda dibandingkan setahun lalu. Jika pada 2025 banyak eksekutif menyambut janji pemotongan pajak dan deregulasi Trump, suasana kini lebih berhati-hati. Semafor menggambarkan antusiasme itu berubah menjadi sikap hormat yang waspada, dengan banyak CEO enggan memicu konflik terbuka.
Tim Walsh, Ketua dan CEO KPMG AS, mengatakan ia berencana menghadiri pertemuan Trump untuk memperoleh gambaran soal tarif. Namun ia menilai ekspektasinya terbatas. “Saya tidak yakin kami mendapatkan informasi baru,” ujarnya kepada Semafor.
Upaya menenangkan kekhawatiran juga dilakukan oleh Menteri Keuangan Scott Bessent yang tiba lebih awal di Davos. Dalam pembukaan USA House, ia menegaskan pesan pemerintah AS kepada mitra dagang.
"America First bukan berarti Amerika sendirian," katanya saat pembukaan USA House. "Kami mengundang negara-negara sahabat dan calon sahabat untuk mengikuti arahan Presiden Trump demi kemakmuran global, perdamaian, dan tatanan internasional yang dipulihkan berdasarkan perdagangan yang adil."
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah keputusan Trump, pada Sabtu lalu, mengenakan tarif 10% terhadap delapan negara Eropa termasuk Denmark, Jerman, Prancis, dan Inggris menyusul penolakan mereka atas klaim AS terhadap Greenland. Trump juga memperingatkan tarif itu bisa naik hingga 25% pada Juni jika AS tidak menyelesaikan apa yang ia sebut sebagai “pembelian Greenland secara lengkap dan total”.
Merespons langkah tersebut, Uni Eropa dikabarkan tengah mempertimbangkan opsi balasan, termasuk pengaktifan tarif hingga total US$108 miliar atas impor AS. Bessent, menurut laporan Reuters, memperingatkan para pemimpin Eropa di Davos bahwa langkah pembalasan semacam itu akan menjadi tindakan yang “sangat tidak bijaksana”.
Forum tahun ini juga dihadiri sejumlah tokoh global, di antaranya Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, serta Perdana Menteri Kanada Mark Carney.

0Komentar