![]() |
| Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei berbicara selama pertemuan di Teheran, Iran, 24 Agustus 2025. | Office of the Iranian Supreme Leader/WANA (West Asia News Agency) |
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan bahwa perselisihan negaranya dengan kekuatan Barat tidak berakar pada program nuklir, melainkan pada penolakan Teheran terhadap dominasi global.
Pernyataan itu disampaikan dalam pesan tertulis kepada pertemuan tahunan ke-59 Uni Asosiasi Mahasiswa Islam di Eropa dan dipublikasikan media pemerintah Iran, Sabtu (waktu setempat).
Dalam pesannya, Khamenei menekankan bahwa inti konflik Iran dengan Barat bersifat ideologis. Ia menyebut isu nuklir bukan faktor utama dalam hubungan Teheran dengan negara-negara Barat.
“Masalahnya bukan perdebatan nuklir atau hal-hal semacam itu,” kata Khamenei, dilansir MEHR News Agency, Sabtu (27/12/2025).
Menurutnya, yang dihadapi Iran adalah tatanan yang tidak adil dan dominasi sistem hegemoni di dunia saat ini, serta dorongan untuk membangun sistem nasional dan internasional yang dinilainya lebih adil.
Pernyataan tersebut disampaikan sekitar enam bulan setelah konflik militer intens selama 12 hari antara Iran dan Israel, yang kemudian melibatkan Amerika Serikat. Perang yang berlangsung pada 13–24 Juni 2025 itu menewaskan lebih dari 1.000 warga Iran, termasuk sejumlah komandan militer senior dan ilmuwan nuklir.
Khamenei juga menyinggung keterlibatan militer AS dalam konflik tersebut. Ia menyatakan serangan militer AS di kawasan tidak mencapai tujuannya dan justru dihadapi dengan perlawanan dari Iran. Klaim ini disampaikan tanpa merujuk pada penilaian independen atau data pembanding dari pihak lain.
Konflik yang oleh sejumlah pihak dijuluki “Perang 12 Hari” atau Operation Rising Lion itu diawali dengan serangan Israel terhadap fasilitas nuklir dan situs militer Iran. Amerika Serikat kemudian bergabung pada 22 Juni dengan menyerang tiga fasilitas nuklir Iran menggunakan bom penghancur bunker.
Berdasarkan data pemerintah Iran, sedikitnya 1.064 orang tewas dalam perang tersebut. Korban mencakup kepala staf angkatan bersenjata Iran, komandan Korps Garda Revolusi Islam, serta setidaknya 11 ilmuwan nuklir. Khamenei mengakui kerugian itu, namun menegaskan bahwa dampaknya tidak akan mengubah arah kebijakan Iran.
“Kehilangan sejumlah ilmuwan, komandan, dan rakyat kami tidak akan menghentikan para pemuda Iran yang bertekad,” ujarnya, seperti dikutip dari Pers Today, Sabtu (27/12)2025). Ia juga menyebut keluarga korban termasuk pihak yang tetap mendukung agenda negara.
Di tengah situasi tersebut, pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat terkait program nuklir belum kembali berjalan setelah terhenti menjelang pecahnya perang. Pemerintah Iran menyatakan infrastruktur nuklir tetap berfungsi meski mengalami kerusakan akibat serangan.
Namun, International Atomic Energy Agency (IAEA) menyebut belum dapat memverifikasi keberadaan dan kondisi stok uranium Iran sejak konflik berlangsung. Sebelum perang, per 13 Juni, Iran tercatat memiliki lebih dari 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga kemurnian 60%, mendekati ambang 90% yang lazim dikaitkan dengan tingkat senjata.
IAEA pada November lalu mengeluarkan resolusi yang menuntut transparansi lebih besar dari Iran terkait stok uranium dan lokasi fasilitas yang diserang.
Dalam pesannya, Khamenei secara khusus menyasar mahasiswa Iran yang belajar di luar negeri. Ia mendorong mereka untuk tetap berpegang pada keyakinan dan memandang peran mereka sebagai bagian dari perjuangan yang lebih luas, sejalan dengan posisi lama Teheran bahwa konflik dengan Barat bersifat ideologis, bukan semata teknis atau nuklir.

0Komentar