Pekerja Foxconn. | Mashable.com


Pembeli smartphone berpotensi menghadapi harga perangkat yang lebih mahal mulai 2026 seiring krisis chip memori global yang dipicu pesatnya adopsi artificial intelligence (AI). Kelangkaan DRAM dan NAND menekan produsen ponsel dari Xiaomi hingga Apple yang dihadapkan pada pilihan menaikkan harga jual atau memangkas spesifikasi produk. 

Tekanan ini muncul ketika kapasitas produksi memori global kian terserap untuk kebutuhan pusat data dan akselerator AI, terutama di Amerika Serikat dan Asia Timur.

Dampak krisis tersebut mulai terlihat pada akhir 2025 dan diproyeksikan berlanjut setidaknya hingga 2027. Xiaomi menjadi salah satu produsen pertama yang secara terbuka mengonfirmasi efeknya. 

Perusahaan asal China itu menyatakan flagship terbarunya, Xiaomi 17 Ultra, yang diluncurkan pada 25 Desember 2025, akan mengalami kenaikan harga signifikan dibanding generasi sebelumnya yang dibanderol 6.499 yuan atau sekitar US$900.

Analis memproyeksikan harga awal Xiaomi 17 Ultra bisa menembus 6.999 yuan atau lebih tinggi. Presiden Xiaomi Lu Weibing menyebut lonjakan biaya memori sebagai tantangan utama yang tengah dihadapi industri. 

Menurut dia, kapasitas produksi DRAM dan NAND sebagian besar terserap oleh infrastruktur AI, sehingga pasokan untuk sektor elektronik konsumen semakin terbatas.

“Biaya memori yang melonjak telah menjadi sakit kepala besar,” ujar Lu Weibing seperti dikutip Reuters. Ia memperingatkan bahwa ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan kemungkinan baru mereda menjelang akhir 2027.

Tekanan serupa dirasakan hampir seluruh pemain industri. Firma riset Counterpoint Research menurunkan proyeksi pengiriman smartphone global pada 2026 menjadi turun 2,1%. Revisi ini didorong kenaikan harga memori yang diperkirakan masih bisa bertambah hingga 40% sampai kuartal II/2026, sehingga biaya produksi perangkat naik sekitar 8–15% dibanding level saat ini.

Counterpoint juga memperkirakan harga jual rata-rata smartphone global pada 2026 meningkat 6,9% secara tahunan, hampir dua kali lipat dari proyeksi sebelumnya. Kenaikan tersebut mencerminkan tekanan biaya yang mulai diteruskan produsen kepada konsumen.

Dampak paling terasa terjadi di segmen ponsel murah. Direktur Counterpoint MS Hwang menyebut biaya bill of materials untuk smartphone di bawah US$200 telah melonjak 20–30% sejak Januari 2025. Merek-merek China seperti Honor, Oppo, dan Vivo mengalami revisi proyeksi pengiriman paling besar, dengan Honor diperkirakan mencatat penurunan volume lebih dari 3% pada 2026.

Sementara itu, ponsel kelas menengah dan premium juga tidak sepenuhnya luput dari tekanan. Biaya manufaktur di segmen ini tercatat naik sekitar 10–15%, meski produsen memiliki ruang lebih besar untuk menyerap sebagian kenaikan melalui strategi harga atau diferensiasi fitur.

Di tengah kondisi tersebut, Apple dan Samsung dinilai berada pada posisi yang relatif lebih kuat. Analis memperkirakan kedua raksasa teknologi ini masih mampu mempertahankan pangsa pasar global sekitar 19% meskipun pasar secara keseluruhan melemah. Skala produksi, kekuatan rantai pasok, serta kemampuan negosiasi jangka panjang menjadi faktor penopang utama.

Apple, menurut laporan AppleInsider, dilaporkan meningkatkan ketergantungan pada Samsung untuk pasokan memori iPhone. Pangsa Samsung dalam rantai pasok memori iPhone 17 disebut naik menjadi sekitar 60–70%, seiring langkah SK Hynix dan Micron yang mengalihkan kapasitas produksi ke memori high-bandwidth untuk akselerator AI.

Kenaikan harga komponen pun tercatat cukup tajam. Modul memori LPDDR5X 12GB yang digunakan pada iPhone dilaporkan melonjak dari sekitar US$30 pada awal 2025 menjadi sekitar US$70 saat ini.

Lembaga riset IDC secara terpisah memperkirakan pengiriman smartphone global pada 2026 turun 0,9%. Dalam laporan yang dikutip Reuters, IDC mencatat harga jual rata-rata smartphone diperkirakan mencapai US$465 pada 2026, naik dari US$457 pada 2025, seiring tekanan biaya komponen utama.

Krisis memori juga merembet ke pasar PC. Dell dan Lenovo telah mengumumkan kenaikan harga produk hingga 15–20% yang mulai berlaku pada akhir Desember 2025 atau awal 2026, sebagaimana dilaporkan TrendForce dan PCMag. Kenaikan ini mencerminkan kondisi serupa, ketika produsen menyesuaikan harga akibat lonjakan biaya DRAM dan NAND.

TrendForce juga mencatat sebagian produsen smartphone mulai merespons tekanan biaya dengan memangkas spesifikasi. Model kelas bawah berpotensi kembali menggunakan konfigurasi RAM dasar 4GB pada 2026, setelah sebelumnya meningkat seiring tuntutan aplikasi dan sistem operasi yang kian berat.

Selain itu, pola pengadaan komponen turut berubah. Produsen semakin banyak mengamankan kontrak pasokan jangka panjang dengan Samsung dan SK Hynix untuk mengunci kapasitas memori yang semakin langka.