Foto: Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim (kanan) dan CEO NVIDIA Jensen Huang (kiri).(Chinesepress.com)

Malaysia resmi menorehkan sejarah baru di dunia teknologi dengan rampungnya pembangunan pusat data bertenaga Nvidia pertama di Kulai, Johor. Proyek senilai sekitar RM10 miliar hasil kemitraan antara YTL Power International Berhad dan Nvidia Corporation itu diumumkan bertepatan dengan KTT Ekonomi Pemimpin APEC di Gyeongju, Korea Selatan, pada Jumat (31/10/2025).

Pengumuman dilakukan dalam pertemuan antara Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, CEO Nvidia Jensen Huang, dan Direktur Pelaksana YTL Power Yeoh Seok Hong. 

Fasilitas bernama Green Data Centre Park itu disebut sebagai kampus data superkomputer bertenaga GPU Nvidia generasi terbaru, Grace Blackwell GB200, dengan kapasitas hingga 500 megawatt (MW) dan ditenagai energi terbarukan dari pembangkit surya.

Pembangunan pusat data di Johor ini merupakan bagian dari ambisi besar Malaysia untuk menjadikan diri sebagai pusat kecerdasan buatan (AI) di Asia Tenggara. Proyek ini juga melibatkan rencana pembentukan National AI Office dan peluncuran Ilmu 0.1, model bahasa besar pertama buatan Malaysia yang dikembangkan oleh YTL AI Labs.

Menurut keterangan resmi YTL Power, kerja sama ini akan memperkuat infrastruktur digital nasional dan membuka jalan bagi pengembangan sistem AI berskala besar di kawasan. 

“Pusat data ini bukan hanya soal teknologi, tapi juga tentang kedaulatan digital. Malaysia ingin memastikan kita tidak hanya menjadi pengguna, tapi juga pencipta,” ujar Anwar Ibrahim usai pertemuan bilateral, dikutip dari Malay Mail, Sabtu (1/11/2025).

Kerja sama antara YTL Power dan Nvidia pertama kali diumumkan pada Desember 2023, dengan nilai investasi awal mencapai USD 4,3 miliar. Setahun kemudian, proyek ini masuk tahap penyelesaian konstruksi dan mulai diuji coba operasional pada Oktober 2025. Lokasi di Johor dipilih karena faktor strategis—dekat dengan Singapura, memiliki pasokan listrik stabil, dan infrastruktur serat optik yang memadai.

Sejak awal, proyek ini dirancang sebagai salah satu fasilitas pusat data ramah lingkungan terbesar di kawasan. YTL Power menyebut penggunaan energi surya hingga 500 MW dan sistem pendinginan cair langsung ke chip (direct-to-chip cooling) untuk menekan konsumsi energi.

Dalam pernyataan terpisah, Menteri Perdagangan dan Industri Malaysia Tengku Zafrul Abdul Aziz menyebut kehadiran fasilitas tersebut menjadi pendorong utama transformasi digital nasional. 

“Langkah ini sejalan dengan kebijakan ekonomi madani yang menekankan inovasi berkelanjutan dan kemandirian teknologi,” ujarnya kepada The Edge Malaysia.

Sementara itu, CEO Nvidia Jensen Huang menyebut Malaysia kini berada di “jalur cepat” menuju pusat inovasi AI regional. 

“Kami melihat Malaysia sebagai mitra strategis jangka panjang dalam membangun infrastruktur AI yang berkelanjutan di Asia,” katanya dalam keterangan resmi perusahaan.

Pusat data ini akan menjadi rumah bagi berbagai layanan superkomputasi dan pelatihan model AI berskala besar, termasuk untuk kebutuhan pemerintah, sektor pendidikan, serta industri kreatif dan finansial.

Pihak YTL Power menegaskan, fase awal operasional data centre diharapkan mulai melayani mitra komersial pada pertengahan 2026, dengan target menciptakan lebih dari 20.000 lapangan kerja digital dalam beberapa tahun ke depan.