Logo Bank Indonesia. | APLUSWIRE/Larissa Meidiana

Bank Indonesia (BI) melaporkan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia turun menjadi US$424,4 miliar pada kuartal III 2025. Angka tersebut lebih rendah dibanding US$432,3 miliar pada kuartal sebelumnya. Penurunan terjadi di tengah ketidakpastian pasar keuangan global serta moderasi aliran modal asing sepanjang periode Juli–September 2025.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis BI, kontraksi ULN tercatat 0,6% year on year (yoy), berbalik dari pertumbuhan 6,4% yoy pada kuartal II 2025. BI menyebut perlambatan ini dipengaruhi menurunnya utang sektor swasta dan melemahnya pertumbuhan ULN pemerintah.

Posisi ULN pemerintah pada kuartal III 2025 tercatat US$210,1 miliar. Secara tahunan, ULN pemerintah masih tumbuh 2,9% yoy, namun melambat tajam dibanding periode sebelumnya yang mencapai 10%. 

Dokumen BI menunjukkan perlambatan tersebut sejalan dengan berkurangnya minat investor asing terhadap Surat Berharga Negara (SBN) domestik akibat volatilitas pasar global.

Data yang dipublikasikan menunjukkan alokasi ULN pemerintah masih diarahkan ke sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 23,1%, administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib 20,7%, jasa pendidikan 17%, konstruksi 10,7%, serta transportasi dan pergudangan 8,2%. Komposisi ULN pemerintah didominasi tenor jangka panjang dengan porsi 99,9% dari total.

Sementara itu, ULN sektor swasta turun menjadi US$191,3 miliar dari posisi US$193,9 miliar pada kuartal sebelumnya. Secara tahunan, utang sektor ini berkontraksi 1,9% yoy, lebih dalam dari kontraksi 0,2% yoy pada kuartal II 2025. Penurunan terutama disumbang oleh lembaga keuangan yang mencatat kontraksi 3% yoy, serta perusahaan nonkeuangan yang turun 1,7% yoy.

BI mencatat tren penyesuaian utang swasta terjadi seiring pembatasan ekspansi pembiayaan luar negeri dan penurunan permintaan pembiayaan akibat kondisi pasar global yang belum pulih.

Meski turun, BI menyebut struktur ULN Indonesia tetap dalam kategori sehat. Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat 29,5%, menurun dari 30,4% pada kuartal sebelumnya. Sebagian besar utang masih berbentuk jangka panjang dengan porsi 86,1% dari total kewajiban luar negeri.

“Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan tertulis. 

Ia mengatakan pemanfaatan ULN tetap diarahkan untuk pembiayaan pembangunan nasional dengan tetap mempertimbangkan stabilitas ekonomi domestik.

Sejauh ini, otoritas moneter dan fiskal masih mencermati risiko global, termasuk suku bunga tinggi dan geopolitik yang berpotensi memengaruhi likuiditas pasar serta arus modal ke negara berkembang.