China menggelar parade militer terbesar di Tiananmen dengan kehadiran Vladimir Putin dan Kim Jong Un, sementara dunia memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II lewat upacara di Hawaii dan Washington. (Reuters/Maxim Shemetov)

China menggelar parade militer terbesar sepanjang sejarahnya di Lapangan Tiananmen, Beijing, pada Rabu (3/9/2025) untuk memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II. 

Acara ini menampilkan lebih dari 10.000 personel militer, persenjataan mutakhir termasuk misil hipersonik dan pesawat siluman, serta disaksikan pemimpin-pemimpin dunia, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

Parade berlangsung selama 70 menit dengan kehadiran pemimpin dari lebih 20 negara. Namun, partisipasi dari negara-negara Barat sangat terbatas, dengan hanya Perdana Menteri Slovakia Robert Fico yang hadir mewakili Eropa. 

Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak hadir dan melalui media sosial mempertanyakan apakah Presiden Xi Jinping akan mengakui kontribusi Amerika Serikat dalam perang. 

“Tolong sampaikan salam hangat saya kepada Vladimir Putin, dan Kim Jong Un, saat kalian bersekongkol melawan Amerika Serikat,” tulis Trump secara sarkastis.

Presiden Xi dalam pidatonya menekankan bahwa dunia saat ini menghadapi pilihan antara perdamaian atau konflik. 

“Umat manusia tidak boleh kembali ke hukum rimba,” ujarnya pada resepsi usai parade di Balai Agung Rakyat. 

Xi juga menyebut bahwa peran China dalam Perang Dunia II berhasil mengikat lebih dari separuh pasukan luar negeri Jepang dengan pengorbanan 35 juta jiwa rakyat Tiongkok.

Kehadiran Putin dan Kim Jong Un di parade ini memicu sorotan internasional karena menandai pertemuan publik pertama mereka bersama Xi sejak Rusia dan Korea Utara menandatangani pakta pertahanan pada Juni 2024. 

Para analis mengamati apakah ketiga pemimpin ini akan mengisyaratkan hubungan pertahanan yang lebih erat, yang berpotensi mengubah kalkulasi militer di kawasan Asia-Pasifik. 

Kim Jong Un diketahui datang ke Beijing bersama putrinya Ju Ae, yang disebut intelijen Korea Selatan sebagai calon penggantinya, meskipun ia tidak terlihat di parade.

Taiwan, yang dianggap Tiongkok sebagai wilayahnya, mendesak warganya untuk tidak menghadiri acara tersebut. Presiden Taiwan Lai Ching-te menuturkan bahwa Taiwan “tidak memperingati perdamaian dengan senjata,” dalam kritiknya pada hari yang sama. 

Sementara itu, juru bicara pemerintah Jepang menyatakan kedua negara tetap berupaya membangun “hubungan yang konstruktif” meskipun tidak memberikan komentar langsung soal parade.

Parade di Beijing menjadi bagian dari peringatan global atas berakhirnya Perang Dunia II. 

Di Hawaii, Amerika Serikat menggelar upacara di Memorial USS Missouri pada 2 September pukul 09.02 waktu setempat, di kapal perang tempat Jepang menyerah 80 tahun lalu. 

Laksamana Samuel Paparo, Komandan Komando Indo-Pasifik AS, menjadi pembicara utama dalam acara yang juga dihadiri delapan veteran awak USS Missouri yang masih hidup. Pameran interaktif bertajuk Pathway to Peace: Pengalaman Perang Dunia II USS Missouri turut dibuka untuk publik.

Di Washington, D.C., Friends of the National World War II Memorial bersama National Park Service menyelenggarakan upacara peringatan pada pukul 11.00 pagi di World War II Memorial. 

Veteran meletakkan karangan bunga di Freedom Wall untuk menghormati hampir 40 juta korban di teater Pasifik dan lebih dari 60 juta jiwa yang tewas di seluruh dunia.

Perayaan berskala besar di China ini tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga menjadi ajang unjuk kekuatan militer di tengah ketegangan regional mengenai Taiwan dan Laut China Selatan. 

Xi menggambarkan Perang Dunia II sebagai titik balik dalam “peremajaan besar bangsa Tiongkok”, serta menegaskan sikap negaranya terhadap apa yang ia sebut “hegemonisme dan politik kekuasaan” dari pihak lain.