![]() |
| Korean Air menandatangani kesepakatan pembelian 103 pesawat Boeing senilai miliaran dolar, bertepatan dengan pembahasan perdagangan antara Korsel-AS. (Lippincot) |
Korean Air menandatangani kesepakatan pembelian 103 pesawat Boeing senilai sekitar $36,2 miliar pada Senin (25/8/2025). Kesepakatan ini mencakup jet penumpang model 787, 777, 737, serta delapan pesawat kargo 777-8 Freighter, dan bertujuan memodernisasi armada setelah merger dengan Asiana Airlines sekaligus memperluas jaringan rute internasional.
Kesepakatan diumumkan beberapa jam setelah Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Washington, membahas tarif impor 15% AS terhadap Korea Selatan, serta serangkaian perjanjian bisnis lainnya.
Selain 103 pesawat, kesepakatan ini mencakup pembelian 19 mesin cadangan dari GE Aerospace dan CFM International senilai $690 juta, serta kontrak perawatan mesin selama 20 tahun dengan nilai $13 miliar.
Pesawat akan dikirimkan secara bertahap hingga akhir 2030. Sekitar 80% akan menggantikan armada lama Korean Air, sementara sisanya digunakan untuk ekspansi rute, termasuk Amerika Serikat, Amerika Latin, dan Amerika Selatan.
Walter Cho, CEO Korean Air, mengatakan:
"Jet baru tersebut akan hadir pada momen penting dan memodernisasi armada maskapai penerbangan nasional Korea Selatan, memastikannya tetap kompetitif saat bergabung dengan Asiana Airlines."
Kesepakatan ini merupakan pesanan widebody terbesar Boeing dari maskapai Asia dan terbesar dalam sejarah Korean Air, sekaligus membantu Boeing memperkuat posisi menghadapi Airbus di segmen pesawat kargo generasi berikutnya.
Kesepakatan ini terjadi dalam konteks kunjungan Presiden Lee ke AS dan tekanan perdagangan dari pemerintahan Trump agar mitra dagang membeli produk Amerika.
Selain Korean Air, beberapa perusahaan besar Korea juga mengumumkan investasi tambahan, termasuk Hyundai Motor Group, yang menaikkan investasi di AS dari $21 miliar menjadi $26 miliar, termasuk fasilitas produksi robot berkapasitas 30.000 unit per tahun.
Presiden Lee sebelumnya berkomitmen menyuntikkan $150 miliar untuk industri pembuatan kapal di AS, bagian dari perjanjian bilateral yang lebih luas. Perusahaan lain yang terlibat dalam pertemuan termasuk Samsung, Nvidia, dan Hyundai.
Korean Air merencanakan standarisasi operasional pada lima keluarga pesawat yaitu Boeing 777, 787, 737, serta Airbus A350 dan A321-neo.
Pesanan ini mendukung integrasi dengan Asiana Airlines, meningkatkan efisiensi bahan bakar, menurunkan emisi karbon, dan memperbaiki pengalaman penumpang.
Stephanie Pope, Kepala Pesawat Komersial Boeing, menyatakan "Kesepakatan ini penting bagi Boeing dan memperkuat posisi kami dalam pasar pesawat komersial global."
Korean Air, salah satu dari 20 maskapai terbesar dunia, mengangkut lebih dari 23 juta penumpang pada 2024 dan melayani 117 kota di 40 negara. Maskapai ini merupakan anggota aliansi SkyTeam dan memiliki joint venture dengan Delta Air Lines.
Kesepakatan ini diperkirakan mendukung 135.000 pekerjaan di AS, baik di lini produksi pesawat Boeing maupun perusahaan pendukung, termasuk Pratt & Whitney, GE, Hamilton Sundstrand, dan Honeywell.
Boeing sendiri mencatat peningkatan produksi dan pengiriman, dengan 45 pesawat dikirim pada Januari 2025, tertinggi sejak 2023.
Di pasar global, kesepakatan ini juga sejalan dengan pembelian besar negara lain, termasuk Jepang (100 jet Boeing) dan Indonesia melalui Garuda (50 jet Boeing), yang terkait dengan perjanjian perdagangan dengan AS dan pengurangan tarif impor.
Meskipun kesepakatan besar, Boeing masih menghadapi sejumlah tantangan sebelumnya. Insiden fatal 737 Max pada 2018 di Jakarta dan Ethiopia menewaskan lebih dari 300 orang, sementara panel pintu darurat 737 Max terlepas di tengah penerbangan pada 2024. Selain itu, mogok kerja 8 minggu oleh 30.000 pekerja pada 2024 sempat memperlambat produksi.
Stephanie Pope memainkan peran penting dalam pemulihan Boeing, termasuk peningkatan produksi dan pengiriman pesawat secara global.
Pengiriman pesawat Korean Air dijadwalkan bertahap hingga akhir 2030. Sebagian besar akan digunakan untuk mengganti armada lama, sementara sisanya untuk ekspansi rute.
Pesawat jarak jauh seperti 787 dan 777 akan mendukung rute internasional utama, sedangkan 737-10 akan digunakan untuk rute domestik dan regional.

0Komentar